fbpx
Appointment
Appointment
Appointment

Stres Akibat Karier Buat Pria lebih Gampang Terserang Obesitas

Obesitas dianggap wajar dialami pria? Pikir lagi! Yuk, hentikan emotional eating mulai dari sekarang!

Sahabat lightHOUSE, tahukah Anda bahwa bahwa angka obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia? Berdasarkan riset Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) jumlah pria dengan obesitas tahun 2010 meningkat 6x lebih banyak dibandingkan tahun 2000. Sementara pada perempuan, penderita obesitas meningkat 3,5x dalam 10 tahun terakhir.

Hingga kini, lebih dari 40 juta orang dewasa di Indonesia—atau setara dengan jumlah penduduk Jawa Barat—mengalami obesitas atau kegemukan. Dan ini jelas bukan kabar baik untuk negeri kita mengingat risiko ancaman penyakit seperti diabetes dan penyakit jantung yang bisa menyerang tubuh kapan saja.

Pendiri klinik lightHOUSE dr. Grace Judio, MSc. pun mengatakan ada banyak faktor yang memengaruhi seseorang menjadi obesitas, baik secara fisik maupun psikologis. Hal tersebut terbagi ke dalam beberapa hal di bawah ini.

1. Karier yang lebih mapan
Pria cenderung memiliki posisi karier yang lebih tinggi dan mapan dibandingkan wanita. Ini mengakibatkan mereka tidak memiliki waktu luang untuk berolahraga. Belum lagi tuntutan karier yang mengharuskan mereka menghadiri acara-acara seminar di hotel, dinas luar kota, dan lobi meja makan seperti yang dilakukan Presiden Jokowi yang membuat pola makan berantakan.

2. Konsumsi karbohidrat berlebih
Nasi menjadi makanan utama dan favorit banyak pria termasuk mantan Presiden SBY. Jika belum makan nasi, rasanya terhitung belum makan sama sekali. Pada akhirnya, camilan pun didominasi dengan olahan makanan berkarbohidrat tinggi seperti mi, ubi, dan roti. Perlu diketahui, mengganti nasi dengan mie itu percuma lho, sahabat lightHOUSE.

3. Rendahnya konsumsi serat
Kebiasaan mengonsumsi karbohidrat yang berlebih sering tak diimbangi konsumsi serat yang cukup pada pria. Banyak yang melakukan jalan pintas seperti jus dalam kemasan dengan kadar gulanya justru terbilang tinggi yang jelas tak baik untuk kesehatan. Mengikuti tren yang berkembang seperti infused water dengan harapan potongan buah yang ada di dalamnya mampu memberikan serat yang cukup pun pada akhirnya percuma.

4. Citra gemuk yang identik dengan kemakmuran
Dari segi psikologis, obesitas juga disebabkan karena anggapan pria gemuk itu memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas karena kondisi ini seringkali dikaitkan dengan “kelebihan gizi”. Faktanya, obesitas justru juga banyak terjadi pada orang-orang dengan tingkat ekonomi rendah. Mereka tidak bisa membeli makanan dengan gizi lengkap dan seimbang. Makanan yang harganya murah adalah makanan instan yang tinggi karbohidrat dan lemak.

5. Emotional eating
Tuntutan goal project yang tinggi, tender yang tak kunjung tembus, membuat tingkat stres pada pria terus meningkat. Banyak pria yang mengobati stresnya dengan makanan yang berujung pada emotional eating.

Karena penyebabnya kompleks, penanganan obesitas juga harus secara komprehensif. “Pria biasa menyelesaikan masalah berat badannya dengan pergi ke gym. Namun hal tersebut tak akan cukup. Harus ada pengaturan pola makan pada pria tersebut dan dilengkapi dengan penanganan khusus dari sisi psikologis, “tutup dr. Grace yang juga merupakan peneliti tingkah laku dan pakar bariatrik ini.}

PT Shape Up Indonesia - Copyright © 2022. All Rights Reserved.
Developed byPetrus Andre
FAQ