Bahaya Penyakit Dibalik All You Can Eat

Fenomena all you can eat di Indonesia mulai terkenal dan booming sejak adanya Korean wave. Sering kita lihat para pemain dalam film dan drama Korea sangat menikmati daging bakar yang digulung dalam sayur. Menjamurnya berbagai restoran Korean barbeque all you can eat dengan harga yang tidak terlalu mahal membuat kita dapat memakan menu all you can eat kapan saja. Namun, apakah intensitas makan all you can eat akan mempengaruhi eating behaviour yang kita miliki?

Menurut psikolog klinik lightHOUSE Tara de Thouars, seseorang dituntut untuk mengendalikan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, mengendalikan diri untuk mengerjakan pekerjaannya di kantor meskipun tidak ingin. Saat makan all you can eat, seseorang mempunyai keempatan untuk melepaskan kontrol. Kesempatan tersebut akan menimbulkan perasaan nyaman dan membuat seseorang menikmati makanan tanpa harus mengendalikan dirinya.

Saat berkesempatan memakan all you can eat, seseorang merogoh kocek yang lebih dari biasanya. Maka dari itu, dari dalam diri muncullah keinginan untuk memanfaatkan kesempatan untuk makan tersebut sebaik mungkin. Hal itulah yang menyebabkan seseorang makan dalam jumlah yang cukup banyak.

Lalu, apa yang membuat makanan dalam menu all you can eat terlihat lebih menarik?

Menu yang disajikan dalam all you can eat biasanya dipajang dan dapat langsung kita lihat. Pada dasarnya, makanan yang dapat dilihat secara langsung akan dirasa lebih menarik. Hal tersebut pula yang mendorong kita untuk terus menerus mengambil daging tersebut.

Jika terlalu sering makan dengan porsi yang besar, akan ada perubahan jumlah porsi makanan yang kita makan sehari-hari. Otak kita akan mempersepsikan makan kenyang artinya adalah makan dengan porsi yang besar. Akhirnya, kebiasaan untuk makan dengan porsi yang banyak menjadi tertanam. Padahal tubuh kita tidak perlu makanan sebanyak itu.

Untuk kamu yang sedang berusaha menurunkan berat badan, sebaiknya menghindari dulu makanan all you can eat. Saat melihat makanan, biasanya emosi seseorang meluap. Ketika emosi mendominasi logika, logika akan menjadi tumpul. Akan sulit untuk menyadari apakah kamu masih merasa lapar atau sudah kenyang.

Perut kita membutuhkan waktu 20 menit untuk mengirimkan sinyal kenyang ke otak. Untuk menghindari makan all you can eat dengan porsi terlalu banyak, kamu bisa menerapkan prinsip mindful eating, yaitu makan dengan perlahan-lahan. Saat kita makan dengan perlahan, sinyal kenyang yang dikirimkan dari perut dapat memberitahu otak bahwa makanan yang dimakan sudah membuat kita merasa kenyang.

Agar tidak merasa rugi karena tidak makan terlalu banyak saat all you can eat, Tara de Thoars menyarankan untuk memilih pilihan yang terbaik. Misalnya saja daging. Pilihlah jenis daging terbaik dari semua yang disajikan. Terakhir, nikmatilah makanan yang kamu makan. Jika makan terlalu banyak dengan makanan yang bukan pilihan terbaik, kamu akan menyesal saat perut merasa begah.

Ingin belajar menerapkan mindful eating? Kamu bisa mengikuti eating coaching yang diadakan oleh Mind and Behaviour Experts dari klinik lightHOUSE yang terdiri dari para psikolog yang berpengalaman. Untuk informasi selanjutnya mengenai eating coaching, kamu bisa menghubungi klinik lightHOUSE cabang BSD, Kebayoran Baru, dan Kelapa Gading. Mulai ubah pola pikirmu bersama lightHOUSE, dengan #DimulaiDariNiat.

PT Shape Up Indonesia - Copyright © 2019. All Rights Reserved.
Developed byPetrus Andre
FAQ