Pakar lightHOUSE: Waspada Makin Maraknya Adiksi Karbohidrat di Indonesia

Bosan, kedinginan, kepanasan, senang, sedih, hal-hal tersebut sering dilampiaskan dengan makan oleh sebagian besar orang Indonesia. Padahal, setiap “masalah” ada “obat”-nya masing-masing. Fenomena ini mengarah pada indikasi adiksi makanan yang dapat merusak diet sehat Anda.

 

 

Adiksi makanan biasanya terjadi untuk jenis-jenis makanan bersifat adiktif, misalnya gula, gula buatan, garam, lemak, tepung, gandum dan kafein. Ketergantungan yang kerap terjadi di Indonesia yaitu terhadap makanan yang mengandung karbohidrat olahan.

Mengapa adiksi karbohidrat? Pakar bariatrik dan pendiri klinik lightHOUSE dr. Grace Judio-Kahl, Msc, mengatakan ini terjadi karena pola makan masyarakat Indonesia sangat bergantung pada karbohidrat olahan yang dikonsumsi dari pagi, siang, hingga malam.

Baca juga: Mengganti Nasi dengan Roti saat Berdiet itu Ternyata Percuma.

Pada pagi hari biasa sarapan bubur ayam, bubur berbahan tepung yang banyak di Jawa, atau ketoprak yang mencampurkan lontong dan bihun. Selanjutnya camilan juga didominasi karbohidrat yang kebanyakan memakai tepung. Termasuk gorengan seperti cireng, jajanan pasar, keripik, kerupuk, hingga dodol.

Untuk makanan siang dan malam, ada nasi dan berbagai lauk pauk berkarbohidrat. Bisa nasi dicampur perkedel kentang, mie goreng atau gorengan berbahan tepung. Pelengkap minumannya pun biasa tinggi gula. Misalnya kopi dan es teh manis.

“Di Indonesia kebanyakan makanan mengandung tinggi tepung atau karbohidrat. Jadi potensi di Indonesia adalah adiksi makanan terhadap karbohidrat. Misalnya kalau tidak makan nasi, seperti belum makan. Bisa jadi adiksi nasi,” tutur dr. Grace. Selain itu, kondisi ini bersamaan dengan peningkatan konsumsi makanan olahan dan cepat saji yang tinggi lemak, garam dan gula.

Ciri Adiksi

Adiksi makanan merupakan penyalahgunaan asupan makanan bukan karena keperluan nutrisi dan energi. Melainkan agar mendapat rasa senang atau motivasi diri. Dalam kasus adiksi karbohidrat, dr. Grace menjelaskan kaitannya, “Konsumsi karbohidrat olahan memicu produksi serotonin yang memberi perasaan tenang dan senang. Sekaligus meningkatkan dopamine yang menimbulkan efek kecanduan.”

Grace mengungkapkan kecanduan karbohidrat ini juga sudah dibuktikan lewat sebuah penelitian. Penelitian tersebut membandingkan otak orang normal, otak orang adiktif kokain, dan otak orang obesitas.

“Setiap orang memiliki zat dopamine di otak. Pada orang normal, hanya dengan mengonsumsi sedikit makanan, zat dopamine akan keluar,” ucap Grace.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan otak orang yang sudah kecanduan. Otak orang dengan adiksi kokain, maupun obesitas, dopamine tersebut tidak akan pernah cukup untuk memuaskan.

“Ketika makanan masuk, zat-zat tertentu akan dibawa oleh neurotransmiter. Zat itu nantinya akan diterima oleh reseptor di dalam otak. Namun, jika makanan yang masuk terlalu banyak, reseptor otak akan mati, sehingga dopamine tidak akan keluar.”

Hal itu kemudian akan memicu seseorang untuk terus menerus mengonsumsi makanan guna mengeluarkan dopamine di dalam otak. Padahal, konsumsi makanan berlebih bisa jadi pemicu penyakit akibat gaya hidup. Termasuk jantung, stroke, obesitas, dan diabetes mellitus.

Baca juga: Tips Diet, Dua Resep Minuman ini Bisa Membantu Meredam Adiksi Gula

Siasati Adiksi

Adiksi karbohidrat tidak bisa disembuhkan dengan pantang karbo. Bila ingin menjalani cara diet yang sehat, lightBUDDY tidak harus berhenti makan karbohidrat. Karena, karbohidrat diperlukan tubuh untuk energi. Namun, perlu dipilih jenis dan jumlahnya. “Keinginan untuk makan yang berasal dari rasa lapar di perut,” kata dr. Grace, “harus dipenuhi dengan memilih karbohidrat yang baik.”

Bila lightBUDDY mengalami ciri-ciri adiksi karbohidrat, pakar-pakar lightHOUSE Indonesia siap mendampingi dan memberikan tips untuk mengatasinya. Pendampingan ini penting karena adiksi tidak mudah untuk dihadapi sendiri, butuh bantuan dari orang-orang sekitar dan terapi yang mendukung.

“Karbohidrat itu punya faktor tidak mengenyangkan. Jadi seseorang akan cenderung makan dalam jumlah banyak sampai perut terasa penuh. Hal seperti ini yang membuat perut buncit karena tidak semua karbo dicerna sampai menimbun di perut,” tambahnya.

Baca juga: Apakah Makanan Diet Sehat Anda Mengandung Gula Tersembunyi

Adiksi karbohidrat biasanya berunjung pada kelebihan berat badan atau obesitas. Penanganannya tidak bisa hanya lewat satu sisi saja. Dibutuhkan program yang komprehensif, lengkap meliputi konsultasi nutrisi, terapi dengan supervisi medis, serta perubahan pola pikir dan penguatan kontrol diri dengan terapi psikologis. Program komprehensif semacam ini bisa lightBUDDY dapatkan di klinik lightHOUSE.

PT Shape Up Indonesia - Copyright © 2018. All Rights Reserved.
Developed byPetrus Andre
FAQ