Beda Diet dan Gangguan Makan Menurut Pakar lightHOUSE

“Saya lagi diet,” demikian biasanya alasan seseorang saat menolak tawaran makanan. Ada juga yang sangat getol olahraga karena mau turun berat. Ternyata bisa jadi alasan sebenarnya mereka mengalami gangguan makan.

 

Memang tidak mudah untuk membedakan mana orang yang sedang diet dan mana yang mengalami gangguan makan. “Orang yang mengalami gangguan makan kebanyakan akan menutupi atau menyangkal kondisi mereka atau bahkan tidak menyadarinya,” demikian kata pakar kesehatan jiwa dr. Dyani Pitra Velyani, SpKJ. dari lighthOUSE Indonesia Weight Control Center.

Gangguan makan biasanya menyerang mereka yang terobsesi untuk memiliki berat badan ideal. Terpengaruh tayangan iklan, memiliki tubuh ramping bagai super model adalah impian mayoritas orang saat ini. Padahal, tubuh langsing bukan jaminan bahwa fisik kita sehat dan kuat. Selain itu tak sedikit pula di antara kita yang menjalani pola hidup tidak sehat dan minim bergerak sehingga sulit mencapai berat badan ideal.

Baca juga: Diet Harus Menyenangkan Agar Berat Badan Tidak Yoyo

Orang-orang dengan obsesi demikian sering melakukan penurunan berat badan dengan cara yang salah. Cara-cara salah itu termasuk diet populer yang banyak menjanjikan solusi instan. Mereka tidak menyadari tengah mengalami gangguan makan karena informasi seputar penyakit ini masih jarang.

Bila didefinisikan, gangguan makan adalah gangguan psikologis yang ditandai perilaku atau kebiasaan makan yang abnormal atau terganggu. Kasus gangguan makan di dunia bisa dibilang cukup banyak. National Eating Disorder Association menyatakan bahwa 50% remaja perempuan melakukan perilaku kontrol berat badan yang tidak sehat. Menurut psikiater yang biasa disapa dr. Vely ini, 25% diantaranya akan berkembang menjadi gangguan makan. “Dengan norma sosial yang sekarang menganggap bentuk tubuh ideal itu yang langsing, angka ini akan terus bertambah,” ia menerangkan.

Gangguan pola makan terdiri dari berbagai jenis, mulai dari bulimia, anoreksia, dan binge eating (makan banyak tetapi selalu merasa bersalah) sebagai jenis gangguan makan spesifik. Ada pula gangguan makan seperti compulsive overating (makan berlebihan), emotional eating (makanan jadi pelarian saat stres), hingga night eating syndrome (bangun dari tidur di malam hari untuk makan).

Baca juga: Cara-cara Mengatasi Emotional Eating dengan Baik

 

Seperti Gunung Es

Menurut pendiri klinik lightHOUSE Indonesia dr. Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt., penderita gangguan makan atau eating disorder itu jumlahnya ibarat gunung es, hanya terditeksi sedikit, tapi sebenarnya banyak. “Salah satu indikasi gangguan makan adalah berat badan yoyo. Kalau akar permasalahannya tidak disembuhkan, berat badan penderita gangguan makan akan terus naik-turun,” ujar dr. Grace.

Untuk mengetahui kondisi penderita gangguan makan, lightHOUSE Indonesia mengadakan penelitian kepada 100 pasien peduli berat badan di klinik Jakarta pada tahun 2013. Penelitian yang dilakukan oleh Psikolog Tara Adisti de Thouars, BA, M.Psi. ini menemukan prevalensi binge eating disorder sedang sebanyak 64%, parah 6%, dan 30% mengalami sedikit gangguan atau tidak sama sekali. “Sementara untuk penderita bulimia atau anorexia sebanyak 32%,” ujar Psikolog Tara.

Menurut Tara, kasus gangguan makan di Indonesia bisa dibilang masih belum terekspos. “Sebagian besar masyarakat indonesia tidak menganggap makan sebagai masalah yang penting untuk diterapi. Berbeda dengan kasus obesitas, karena bagian dari estetika. Padahal dampak gangguan makan sangat besar hingga bisa berujung pada kematian, ia menambahkan.

Baca juga: Family Based Treatment for Eating Disorder: Solusi Gangguan Makan dari lightHOUSE

 

Kenali dan Konsultasikan

Dampak dari gangguan makan ini tidak bisa dibilang ringan. “Dampak fisik seperi kerentanan akan infeksi, gangguan fungsi organ dalam tubuh, gangguan hormonal, bahkan akibat fatal seperti kematian pun dapat terjadi pada kasus yang berat,” kata dr. Vely. Selain fisik, ia menambahkan, dampak secara mental pun juga akan dialami yang akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Pertama, kenali apa itu gangguan makan dan ciri-cirinya. “Ini PR bagi kita. Bukan hanya melihat ciri-ciri pada diri sendiri, tapi juga pada orang-orang terdekat kita,” ia menekankan. Bila ciri-cirinya sesuai, dapatkan pertolongan medis bagi yang mengalami gangguan makan. Dalam Pedoman Penyakit Gangguan Jiwa atau Diagnostic and Statistic Mental Disorder edisi terbaru, gangguan pola makan termasuk dalam gangguan mental lho.

Menurut dr. Grace, gangguan makan tidak bisa diatasi hanya dengan konseling gizi saja. Diperlukan juga terapi kogntifi, bahkan obat-obatan, tergantung kondisi mental pasien. Hal yang sama dikatakan dr. Vely, “Pilih program terapi yang komprehensif, tidak hanya dari sisi psikologis, tapi juga perbaikan pola makan. Jangan lupa untuk terus mendampingi orang terdekat yang mengalami gangguan makan.” Program komprehensif semacam ini bisa lightBUDDY dapatkan di klinik lightHOUSE.

 

PT Shape Up Indonesia - Copyright © 2018. All Rights Reserved.
Developed byPetrus Andre
FAQ