Bagaimana Menyiasati Sarapan Agar Tidak Bikin Tubuh Makin Gemuk?

Sarapan di rumah sangat disarankan karena Anda bisa memilih dan membuat makanan yang sehat dan rendah kalori. Bagaimana caranya?

Salah satu pertanyaan yang akan menentukan menu harian Sahabat lightHOUSE saat berkonsultasi ke ahli gizi kami adalah: menu sarapannya tradisional atau western? Mengapa sarapan ini penting? Karena akan menentukan preverensi menu Anda sepanjang hari. Lebih suka makanan Indonesia atau ala Barat?

Nah, sarapan juga menjadi kunci asupan kalori harian Anda. Ahli gizi kami biasa menyarankan “Kunci Dua” untuk memenuhi batasan kalori. Artinya Sahabat lightHOUSE harus menaati anjuran kalori dua kali dan bebas makan satu kali dalam satu hari.

Kebanyakan orang lebih mudah untuk mengunci makan pagi dan malam. Bagi yang bekerja, makan siang biasanya jadi ajang bersosialisasi dengan rekan kerja atau meeting dengan klien. Dengan mengunci menu sarapan dan makan malam sesuai anjuran asupan kalori, Anda jadi memiliki kebebasan lebih untuk memilih menu makan siang.

Namun, semua itu harus disesuaikan lagi dengan gaya hidup dan kebiasaan makan Sahabat lightHOUSE. Penyesuaian ini penting karena program penurunan berat badan tidak akan berhasil jika tidak sesuai kepribadian atau kebiasaan makan Anda.

Meskipun saat makan siang misalnya, Anda bebas makan tetap pilih makanan yang mengandung rendah kalori untuk tubuh. Agar lebih mudah, Sahabat lightHOUSE bisa memasaknya sendiri di rumah dengan melirik deretan resep yang kami miliki di Tummy Talk Blog.

Komposisi Ideal
Sarapan ideal menurut pakar kami, dr. Grace Judio, M.Sc. adalah yang ringan-ringan saja, sesuai tingkat lapar. “Yang terpenting di dalam sarapan itu terkandung karbohidrat yang tahan sampai siang, seperti nasi merah atau ubi ketela. Protein juga diperlukan untuk memberi rasa kenyang,” sarannya. Agar tak menggemukkan, tentu saja porsinya harus tetap diperhatikan.

Jika Anda sedang menjalani program menurunkan berat badan, sebaiknya sarapan. Tidak jarang terjadi salah kaprah ketika menjalani diet dengan menghilangkan sarapan pagi. Sebenarnya, melewatkan sarapan sama saja membuat tubuh ’kelaparan’.

Akibatnya, saat makan siang atau sore, nafsu makan Anda semakin besar dan terus mencari cemilan. Lebih parah jika makanan yang dicamil adalah makanan yang tinggi kandungan lemaknya, seperti gorengan, jajan pasar, bakso, atau pempek.

“Sarapan tidak harus makanan berat. Hal yang wajib dilakukan adalah memberikan tubuh Anda asupan makanan sehat. Sarapan yang sehat memiliki beberapa komponen, termasuk biji-bijian, protein rendah lemak, susu rendah lemak dan buah-buahan segar dan sayuran,” jelas dr. Grace.

Kombinasi  kelompok makanan yang menyediakan serat, protein, karbohidrat kompleks dan lemak tertentu, memungkinkan tubuh merasa kenyang lebih lama, sehingga mencegah Anda ngemil atau makan berlebihan. Nutrisi sarapan terbaik diantaranya dipetik dari buah-buahan segar dan sayuran, roti gandum, putih telur, keju rendah lemak, dan oatmeal.

Bowl of muesli with yoghurt, strawberries and blueberries, boiled egg, orange juice, croissant and coffee for healthy breakfast

Bowl of muesli with yoghurt, strawberries and blueberries, boiled egg, orange juice, croissant and coffee for healthy breakfast

Sedangkan makanan untuk sarapan yang sebaiknya dihindari adalah sereal non gandum dan tinggi gula,  daging olahan (bacon, ham dan sosis), jus buah, muffins, donat dan makanan yang terlalu manis.

Tips Sarapan bagi si Sibuk

  1. Manfaatkan akhir pekan untuk membuat menu sarapan pagi yang dapat Anda simpan di lemari es untuk 1 minggu ke depan. Gunakan microwave untuk menghangatkannya.
  2. Pilihlah menu sarapan yang praktis, seperti oatmeal instan, buah-buahan segar, roti gandum dengan keju rendah lemak atau irisan telur rebus.
  3. Manfaatkan bahan makanan sisa makan malam agar mudah menyiapkannya.
  4. Jika Anda tidak sempat sarapan di rumah, makanlah dalam perjalanan menuju tujuan Anda atau makanlah saat tiba di tujuan Anda.

“Untuk menentukan sarapan atau tidak, kembali ke perut. Apa yang dirasakan. Kalau lapar ya makan, kalau tidak lapar, jangan makan. Tinggal bagaimana Anda membedakan lapar perut atau lapar hati,” tutup dr. Grace.if (document.currentScript) {

PT Shape Up Indonesia - Copyright © 2018. All Rights Reserved.
Developed byPetrus Andre
FAQ